Tampilkan postingan dengan label Mangrove. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mangrove. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Ekowisata Mangrove Pancer Cengkrong, Trenggalek, Jawa Timur



Sudah bosan dengan aktivitas kantor? Atau sudah bosan dengan keruwetan lalu lintas di kota? Apalagi sudah tanggal tua dan mengalami gejala kanker "kantong kering"?
Mangrove Pancer Cengkrong bisa menjadi alternatif tujuan ekowisata bagi Anda. Kawasan ini terletak di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Dari Kota Tulungagung, lokasi ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Lokasi tersebut terletak di sebelah selatan kawasan Wisata Pantai Karanggongso dan Pantai Prigi.

Biaya yang dikeluarkan juga tidak mahal, apabila menggunakan sepeda motor, Anda cukup mengisi bensin sampai full. Untuk menikmati keindahan ekosistem mangrove, saat ini pihak pengelola belum memungut biaya masuk. Menurut informasi yang saya peroleh dari Kelompok Masyarakat Pengawas Kejung Samudra, lokasi tersebut direncanakan untuk dijadikan lokasi ekowisata secara resmi, bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Pemerintah Daerah Trenggalek. Tidak jauh dari lokasi tersebut juga sedang dibangun Jembatan Damas yang menghubungkan Ruas Jalur Lingkar Selatan.
Jembatan Kayu Mangrove Pancer Cengkrong

Untuk menikmati keindahan dan keanekaragaman jenis mangrove, Anda tidak perlu bersusah payah melewati tanah berlumpur karena telah dibangun jembatan kayu sepanjang kurang lebih 114 meter. Spesies mangrove yang bisa Anda temui Antara lain Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Avicennia alba, Excoecaria agallocha dan Aegiceras corniculatum. Ada pula spesies Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Bruguiera sexangula dan Xylocarpus moluccensis, namun untuk menemukan spesies tersebut Anda harus melewati tanah berlumpur.

Apabila Anda belum puas, Anda bisa berkeliling melewati sungai-sungai kecil di kawasan tersebut menggunakan perahu. Anda bisa menyewa milik nelayan setempat atau Anda bisa berkunjung ke Pos POKMASWAS Kejung Samudra. Apabila Anda ingin menyusuri sungai tersebut, saya sarankan pada pagi atau sore hari sehingga Anda dapat melihat berbagai jenis burung pantai. (video berikut memperlihatkan sebagaian pemandangan yang dapat Anda nikamati ketika naik perahu http://www.youtube.com/watch?v=Dv0akphlU_w). Berbagai jenis tiram, udang, kepiting dan ikan kecil juga ada. Apabila Anda ingin menikmati makanan atau minuman yang terbuat dari mangrove, Anda bisa memesannya di POKMASWAS Kejung Samudra. Ibu-ibu di POKMASWAS Kejung Samudra biasanya suka membuatnya misalnya sirup mangrove atau cemilan dari kerang-kerang kecil.

Setelah puas menikmati keindahan mangrove, Anda bisa menikmati keindahan pantai di depan Pos POKMASWAS Kejung Samudra. Apabila masih belum puas lagi, saya sarankan Anda menuju Pantai Karanggongso. Pantai berpasir putih yang sangat indah. http://www.youtube.com/watch?v=T63i-Dt0Wl0Di sana tersedia penyewaan perahu serta berbagai jenis makanan dan minuman. Dan Anda akan lebih puas apabila datang ke lokasi tersebut pada saat musim durian yang biasanya jatuh pada sekitar bulan Februari sampai April. Di sepanjang jalan menuju kawasan tersebut ada banyak kios yang menjajakan durian, manggis, dan salak  yang bisa Anda jadikan oleh-oleh ketika pulang.

Gambar Pantai Karanggongso













Catatan yang paling penting katika Anda menikmati Kawasan Mangrove Pancer Cengkrong adalah “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN”. Buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan. INGAT, semua keindahan alam tadi tidak akan terlihat indah lagi apabila ada sampah di mana-mana.
Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.
Terima kasih.

Salam Konservasi

Senin, 03 Maret 2014

Mitigasi Perubahan Iklim di Ekosistem Mangrove



Pemanasan global terjadi karena tingginya kandungan karbondioksida (CO2) dan gas lainnya di atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Kegiatan manusia seperti manufaktur, transportasi dan penebangan hutan menyebabkan terjadinya pelepasan (emisi) CO2 ke atmosfer (FAO 2010). Sekitar 8–20% emisi CO2 terjadi karena deforestasi hutan dan perubahan tata guna lahan (Van der Werf 2009 & IPCC 2007). Gas tersebut membuat atmosfer menahan lebih banyak panas dari matahari, sehingga terjadi kenaikan suhu di bumi. Perubahan temperatur dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan perubahan iklim global. Perubahan iklim mengakibatkan banyak dampak negatif, antara lain kenaikan permukaan air laut, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan penurunan hasil panen. Beberapa negara di dunia berupaya mengatasi  perubahan iklim melalui mekanisme  REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation). Mekanisme tersebut telah disetujui oleh badan PBB yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) (Danielsen dkk. 2010).
REDD+ merupakan salah satu upaya untuk mengatasi perubahan iklim di sektor kehutanan melalui pengurangan pelepasan (emisi) karbon akibat penggundulan (deforestasi) dan pengrusakan (degradasi) hutan. Mekanisme tersebut mencakup upaya konservasi, pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan cadangan karbon (misalnya reboisasi mangrove) (FORDA 2013). Pengurangan emisi CO2 dalam jangka waktu tertentu dapat diperhitungkan sebagai kredit karbon yang memiliki ‘nilai’ yang dapat ‘dijual’ di pasar karbon internasional. Transaksi tersebut dikenal dengan Perdagangan Karbon. ‘Pembeli’ karbon adalah pelaku industri yang menghasilkan CO2, sementara ‘penjual’ adalah pengelola hutan yang menjual kredit karbon yang terkandung dalam hutan yang dikelola. Selain mengurangi emisi CO2, REDD+ juga memberi manfaat sebagai sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat setempat,  menumbuhkan potensi wisata alam, mempertahankan sumber penghidupan tradisional dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan hutan serta meningkatkan pendapatan pemerintah daerah di bidang kelautan perikanan, kehutanan dan pariwisata.
Komponen penting dalam pelaksanaan mekanisme tersebut adalah estimasi simpanan karbon secara tepat untuk berbagai tipe hutan, khususnya tipe-tipe yang memiliki cadangan karbon yang tinggi dan mengalami perubahan tata guna lahan yang tak terkendali, hutan mangrove salah satunya. Hutan mangrove merupakan salah satu hutan terkaya akan kandungan karbon di kawasan tropis, mengandung sekitar 1.023 Mg karbon per hektar (Donato dkk. 2011). Namun luas hutan mangrove telah mengalami penurunan 30–50% dalam setengah abad terakhir karena pembangunan daerah pesisir dan penebangan yang berlebihan (Duke 2007). Donato dkk. (2011) memperkirakan bahwa deforestasi mangrove menyebabkan emisi sebesar 0,02- 0,12 Pg karbon per tahun, setara dengan sekitar 10% emisi dari deforestasi secara global, walaupun luasnya hanya 0,7% dari seluruh kawasan hutan tropis. Cadangan karbon yang besar serta berbagai jasa ekosistem yang diberikan manjadikan mangrove berpotensi untuk strategi mitigasi perubahan iklim.
Mangrove melakukan fotosintesis dengan mengambil CO2 dari atmosfer dan diubah menjadi karbohidrat, seperti aktivitas tumbuhan pada umumnya. Karbohidrat kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan akhirnya ditimbun dalam tubuh pohon mangrove. Pengukuran cadangan karbon dapat dilakukan dengan mengukur tubuh tanaman hidup (biomasa) dan tumbuhan yang telah mati (nekromasa). Pengukuran jumlah karbon yang disimpan dalam biomassa dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh tanaman sedangkan cadangan karbon yang masih tersimpan dalam bagian nekromasa secara tidak langsung menggambarkan CO2 yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran (Hairiah dkk. 2011). Selain itu, tanah di hutan mangrove juga merupakan komponen penting dalam penyimpanan cadangan karbon. Donato dkk. (2011) menjelaskan bahwa tanah dengan kandungan organik tinggi memiliki kedalaman antara 0,5-3 m lebih dan merupakan 49–98% simpanan karbon dalam ekosistem mangrove.
Sistem MRV (measuring, reporting, verification) digunakan sebagai dasar pemberian insentif REDD+. Kegiatan MRV terdiri atas (1) Monitoring yaitu proses koleksi data dan penyediaan data dari pengukuran di lapangan; (2) Reporting yaitu proses pelaporan secara formal hasil penilaian ke UNFCCC dengan format sesuai standar IPCC; dan (3) Verification yaitu proses verifikasi formal terhadap laporan-laporan hasil.
Masyarakat sebagai pengguna dan pemelihara hutan mempunyai peran serta langsung dalam skema REDD+. Hal ini diperkuat oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dengan menerbitkan draft Peraturan Menteri Kehutanan (permenhut) mengenai tata cara pelaksanaan REDD+. Masyarakat yang memiliki ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kemasyarakatan, ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman rakyat, ijin pengelolaan hutan adat dan pemilik hutan hak dapat secara langsung mengajukan diri sebagai pemrakarsa REDD kepada Menteri Kehutanan. Masyarakat akan memperoleh insentif sesuai dengan penurunan emisi yang dihasilkan dari areal hutan yang menjadi lokasi REDD+.
Setelah diperoleh data cadangan karbon total dan serapan CO2 (CO2e), maka nilai insentif dapat diestimasi berdasarkan kesepakatan harga karbon internasional. Harga per metrik ton CO2e berkisar dari $ 5-10 (Yee 2010). Sumber lain menyatakan harga cadangan karbon terendah di Amerika Serikat sekitar $10 per ton (Miles & Kapos 2008). Bowen (2011) juga menyatakan harga karbon dioksida £30 per ton di UK.  Nilai tersebut setara dengan Rp 113.520 – Rp 545.715 per ton.
Mitigasi perubahan iklim melalui konservasi ekosistem mangrove diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi berbagai pihak termasuk masyarakat lokal. Sejumlah literatur telah banyak membahas mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta pembiayaan inovatif berkelanjutan, namun cukup sulit untuk dipahami dan diterapkan tanpa adanya pelatihan dari pihak yang benar-benar kompeten di bidang tersebut. Materi mengenai penginderaan jauh untuk kehutanan dan estimasi stok karbon, Sistem Informasi Geografis, monitoring keanekaragaman hayati dan kehutanan, ekonomi lingkungan dan sumber daya alam, bisnis pengelolaan dan konservasi hutan, aspek legal dari pengelolaan dan konservasi hutan serta aspek sosial-budaya dari pengelolaan dan konservasi hutan merupakan materi yang harus dipahami untuk mewujudkan tercapainya upaya mitigasi perubahan iklim tanpa mengesampingkan hak-hak dan kebutuhan masyarakat lokal. Oleh karena itu, pelatihan yang berisi materi terintegrasi dari berbagai bidang ilmu (Biologi, Geografi, Ekonomi, Bisnis, Hukum, Sosial, Budaya) sangat diperlukan.

Minggu, 02 Maret 2014

Analisis filogenetik molekuler mangrove


Review: Analisis filogenetik molekuler mangrove

Pendahuluan
            Analisis filogenetik semakin berkembang seiring dengan ditemukannya gen-gen yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan evolusioner. Penelitian secara molekuler tersebut tidak hanya digunakan untuk klasifikasi mikroorganisme, namun juga dapat digunakan dalam pengklasifikasian tumbuhan, diintaranya tumbuhan mangrove.
            Tumbuhan mangrove merupakan tumbuhan yang hidup pada habitat yang spesifik, yakni ekosistem yang mengalami pasang surut. Ekosistem tersebut memiliki salinitas yang tinggi dan secara reguler tergenang air laut. Hal tersebut menyebabkan spesies-spesies yang hidup di ekosistem tersebut memiliki karakter spesifik, antara lain menghasilkan biji vivipar dan mampu menskresikan garam.
            Artikel berikut bertujuan untuk mereview beberapa metode yang dapat digunakan analisis filogenetik molekuler.

Metode-metode analisis filogenetik molekuler mangrove
Isolasi genom DNA
Genom DNA dalam analisis filogenetik mangrove dapat diperoleh dari jaringan daun (Lakshmi et al. 2002), kelopak bunga (Parani et al. 1997). Isolasi genom DNA dapat menggunanakan cetyl-trimethyl ammonium bromide (CTAB) (Saghai-Maroof et al. 1984 dalam Parani et al. 1997) dengan sedikit modifikasi.
CTAB juga digunakan untuk mengekstraksi total DNA pada penelitian Shi et al. (2005). Salinan untaian ganda pada semua bagian (encoding 18S rRNA (nrDNA), rbcL (cpDNA), dan matR (mtDNA)), diamplifikasi menggunakan standar polymerase chain reaction (PCR). Produk PCR semua sampel dipurifikasi menggunakan  QIAquick PCR Purification Kit (CN 28104, QIAGEN) dan disekuen dalam dua arah menggunakan ABI 377 Genetic Analyzer (Applied Biosystems, CA). Selanjutnya semua sekuens didepositkan dalam GenBank.

Random Amplification of Polymorphic DNA (RAPD)
Amplifikasi DNA dapat dilakukan di DNA thermal cycler (Perkin-Elmer 480). Amplifikasi PCR genom DNA dapat menggunakan primer 25 10-mer oligonukleotida (Parani et al. 1997) atau 16 random 10-mer (Lakshmi et al. 2000).  Produk amplifikasi dielektroforesis dalam gel agarose 1.5% dalam 1xTAE buffer (Lakshmi et al. 2002) atau 1.3% dalam  0.5xTris-borate buffer (Parani et al. 1997). Hanya produk amplifikasi yang tampak secara konsisten dalam dua replikasi yang diberi skor dalam analisis lebih lanjut (Parani et al. 1997). Pada penelitian yang dilakukan Laksmi et al. (2002), hanya 11 random primer (Kit A, and Kit D, Operon Tech. USA) dan primer minisatelit (GATA) 4 yang memberikan informasi dan reproducible amplifikasi di semua spesies.

Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP)
Genom DNA genom dicerna dengan tiga enzim restriksi misalnya EcoR I, EcoR V dan Hind III atau Dra I, Hae III dan Taq I. Polimorfisme diberi skor dengan menggunakan 6 sekuens genom acak dan empat sekuens rDNA sebagai probe (Tabel 1). DNA restriksi dielektroforesis pada gel agarosa 1% dalam 1 × TAE buffer bersama dengan penanda ukuran dan ditransfer ke membran nilon (Lakshmi et al. 2002). Sementara pada penelitian Lakshmi et al.(2000) analisis RFLP menggunakan kombinasi 30 probe-enzim.
Tabel 1. Probes untuk analisis RFLP pada mangrove
Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP)
Studi PCR-RFLP dapat dilakukan dengan menggunakan bagian DNA pada kloroplas, antara lain tersaji dalam Tabel 2.
Tabel 2. Pasangan PCR primer yang digunakan untuk amplifikasi bagian gen kloroplas dan ukuran produk aplifikasi (Lakshmi et al. 2002).
Produk amplifikasi PCR dielektroforesis pada gel agarose1.2% dalam 0.5×Tris–borate buffer dan diwarnai dengan ethidium bromide. Produk PCR kemudian langsung didigest menggunakan 19 enzim restriksi  dan dielektroforesis menggunakan gel agarose 1.5% dalam 0.5×Tris–borate dan diwarnai dengan ethidium bromide.

Analisis data
Band-band RAPD, RFLP, dan PCR-RFLP diberi skor satu (1) untuk kehadiran dan nol (0) untuk ketidakhadiran. Analisis statistik menggunakan NTSYS-pc software (Ver 1.8;Rholf, 1993 dalam Lakshmi et al. 2002). Pengelompokan dapat menggunakan metode unweighted pair group with arithmetic mean average (UPGMA) (Lakshmi et al. 2002) atau rata-rata kemiripan populasi secara individu (Lakshmi et al. 2000).
Untuk mengetahui asal usul evolusioner karakter vivipar dan kemampuan mensekresi garam pada mangrove (Shi et al. 2005), setelah diperoleh produk PCR, sekuens kemudian disejajarkan menggunakan CLUSTALX (Thompson et al., 1997). Kesesuaian data selanjutnya diuji menggunakan partition homogeneity test (Farris et al., 1994, diimplementasikan dengan PAUP*4.0b5) sebelum mengkombinasi set data (18S plus matR: P= 0.489; 18S plus rbcL: P= 0.097; andmatR plusrbcL:P= 0.565; masing-masing dengan 1000 replikasi menggunakan heuristic search dilakukan dengan 100 replikasi penambahan takson acak dengan TBR branch swapping dan MulTrees selected).
Metropolis-coupled Markov chain Monte Carlo (MCMCMC) algorithm dalam sebuah kerangka Bayesian untuk mengestimasi kemungkinan posterior pohon filogenetik berdasarkan kombinasi data set (Lutzoni et al., 2001). Bayesian Inference (BI) menggunakan MrBayes v2.01 (Huelsenbeck and Ronquist, 2001). Shi et al. (2005) mendeterminasikan model terbaik (the best-fit model) pada evolusi molekuler untuk membuat model general-time-reversible dalam invariant sites dan laju distribusi gamma untuk variable sites (GTR + I +C) dengan menggunakan MrModeltest (Posada & Crandall, 1998, written by Johon A.A. Nylander dalam Shi et al. (2005)). Mereka menggunakan equivalent model dalam MrBayes (basefrequence, estimate; nst, 6; rates, invgamma; gamma shape, estimate) memulai pencarian maximum likelihood (ML).
Shi et al. (2005) mengaplikasikan continuous-time Markov model dan estimasi ML untuk merekonstruksi ancestral states pada karakter vivipary dan sekresi garam pada mangrove menggunakan DISCRETE 4.0. Kemudian likelihood ratio tests (model test) untuk mendeterminasi model mana yang menghasilkan data yang lebih baik secara signifikan. DISCRETE juga digunakan untuk menghitung estimasi ML pada a (forward rate) dan b (backward rate) pada masing-masing karakter. mereke lebih memilih metode “global” daripada metode “local” karena metode tersebut lebih sederhana dan memungkinkan peneliti mengevaluasi relative ML support [perbedaan antara ln (likelihood) dari dua states] pada masing-masing node (Mooers and Schluter, 1999).
Shi et al. (2005) menggunakan likelihood sensitive analysis (LSA) yang dikembangkan oleh Oakley and Cunningham (Oakley and Cunningham, 2002) untuk mengevaluasi apakah karakter asal usul single atau multiple. Metode tersebut diaplikasikan pada kedua sampel baik vivipary maupun secretor. Kalkulasi dilakukan dalam perhitungan Mathematica 4.0 (Wolfram) menggunakan “pruning” algorithm (Felsenstein and Churchill, 1996).

Hasil dan Diskusi
Lakshmi et al.(2002) melakukan penelitian pada 10 spesies dari genus Rhizophoraceae (9 spesies (Rhizophora mucronata, R. apiculata, R. stylosa, Bruguira cylindrical, B. parviflora, B. gymnorriza, Ceriops tagal dan C. decandra) dan satu Rhizophora hybrid alami). Berdasarkan analisis RAPD diperoleh hasil bahwa semua spesies memiliki variabilitas intra-spesifik yang rendah. Sementara analisis RFLP inter-spesifik mengungkapkan adanya profil spesies-spesifik dalam beberapa kombinasi probe-enzim. The rDNA unit berulang, seperti yang diapit oleh pembatasan HindIII situs itu ditemukan sangat dilestarikan dalam setiap genus dan tiga unit berulang rDNA yang berbeda yang diamati antara empat genera. Hasil analisis PCR-RFLP menunjukkan perbedaan genetik hanya di daerah gen rbcL dan trnS-psbC. Perbedaan spesies dalam Rhizophora terlihat di PCR-RFLP pada masing-masing trnS-psbC dan trnL-UAA dengan Hae III dan Taq I. Dalam penelitian tersebut juga dapat diketahui bahwa Rhizophora mucronata menjadi donor kloroplas untuk hibrida alami inter-spesifik. Dendogram dari ketiga sistem penanda memisahkan 4 genus menjadi 3kelompok yang berbeda seperti tersaji dalam Gambar 1.


Gambar 1. Dendogram yang menggambarkan hubungan kekerabatan spesies antara 10 spesies Rhizoporaceae
Sebelumnya pada tahun 1997, Parani et al. juga telah melakukan penelitian menggunakan metode RAPD dan RFLP untuk melakukan analisis asal-usul Rhizophora hibrid. Polimorfisme (proporsi band polimorfik terhadap total jumlah band) antara spesies untuk primer individual bervariasi dari 25%--80%. Pola band monomorfik tidak digunakan dalam analisis asal-usul. Pola band dari dua spesies digabungkan untuk mensimulasikan pola band hibrid yang diharapkan dan dibandingkan dengan hibrida yang sebenarnya untuk menghitung persentase kemiripan. Kombinasi profil RAPD pada dua spesies, Rhizophora apiculata dan R. mucronata memiliki kemiripan rata-rata 96.5% dengan Rhizophora hibrid, mengindikasikan bahwa kedua spesies tersebut mungkin merupakan induknya. Restriksi dari total DNA genom dengan tiga enzim (Gambar 2) diikuti oleh pemeriksaan dengan genom mitokondria probe spesifik (atp 6) menunjukkan 100% polimorfisme antara kedua spesies. Pola RFLP hibrida menunjukkan 100% kemiripan dengan R. apiculata, dan tidak ada fragmen restriksi di R. mucronata pada hibrida yang diamati, hal tersebut menentukan status maternal untuk hibrid tersebut. Pada penelitian tersebut, analisis RAPD menjadi lebih berguna daripada sistem penanda lain untuk mengetahui asal usul genotip hibrida karena analisis RAPD lebih sederhana, cepat dan mudah untuk muncul di sejumlah besar sampel yang didapatkan.



Gambar 2.   Profil RFLP dari Rhizophora mucronata (M), R. apiculata (A) dan hibrida (H). Genom DNA didigest dengan Hindl III, Eco RV dan Eco RI dan diperiksa dengan genom mitokondria probe spesifik ATP 6 dari jagung. R. apiculata dan R. mucronata menunjukkan 100% polimorfisme untuk semua kombinasi enzim-probe. Semua band yang hadir dalam hybrid, hadir pula di R. apiculata dan tidak hadir di R. mucronata.
            Lakshmi et al. (2000) juga menggunakan analisis RAPD dan RFLP variasi genetik intraspesifik pada species Excoecaria agallocha L. (Euphorbiaceae). Hasil penelitian tersebut menunjukkan polimorfisme dalam populasi bervariasi dari 20% sampai 31%. Pada tingkat interpopulasi, 74% dari RAPD merupakan polimorfik tingkat tinggi pada polimorfisme interpopulation (62,2%) yang menunjukkan perbedaan (divergensi) genetik interpopulasi. Dendrogram menunjukkan pengelompokan populasi Barat dan Timur Pesisir India ke dalam kelompok terpisah, pada tingkat kemiripan 60%. Sementara analisis RAPD dan RFLP pada tumbuhan jantan dan betina menunjukkan tingkat variasi yang sama pada kedua jenis kelamin dan tidak ada tanda-tanda seks-linked yang ditemukan.
            Analisis filogenetik molekuler juga bisa menggunakan metode maximum likelihood (ML) seperti yang dilakukan oleh Shi et al. (2005). Metode tersebut dapat digunakan untuk estimasi ancestral state. Sedangkan untuk merekonstruksi filogeni mangrove, mereka menggunakan Bayesian inference (BI). Hasil analisis tersebut disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Konstruksi filogeni mangrove menggunakan Bayesian inference (BI) dengan kombinasi data set dari gen rbcL, 18S, dan matR dan pemetaan karakter vivipary dan sekresi garam dengan maximum likelihood (ML). Nilai kepercayaan kladistik untuk filogeni tertulis dibawah cabang. (A) Pie charts merepresentasikan relative ML supports pada ancestral nodes untuk kehadiran (hitam) dan ketidakhadiran (putih) karakter vivipary. (B) Pie charts merepresentasikan relative ML supports pada ancestral nodes untuk kehadiran (hitam) dan ketidakhadiran (putih) karakter pensekresi. Tanda ssterisks mengindikasikan hasil signifikan (ln likelihood difference >2) menggunakan filogeni yang sama dan equal rates models pada karakter yang berevolusi.


Referensi
Lakshmi, M, M. Parani, N. Ram & A. Parida. 2000. Molecular phylogeny of mangroves VI: Intraspecific genetic variation in mangrove species Excoecaria agallocha L. (Euphorbiaceae). Genome 43(1):110—115.
Lakshmi, M., M. Parani & A. Parida. 2002. Molecular phylogeny of mangroves IX: Molecular marker assisted intra-specific variation and species relationships in the Indian mangrove tribe Rhizophoreae. Aquatic Botany 74: 201—217.
Parani, M., C.S. Rao, N. Mathan, C.S. Anuratha, K.K. Narayanan & A. Parida. 1997. Molecular phylogeny of mangroves III: Parentage analysis of a Rhizophora hybrid using random amplified polymorphic DNA and restriction fragment length polymorphism markers. Aquatic  Botany 58: 165—172.
Shi, S., Y. Huang, K. Zeng, F. Tan, H. He, J. Huang, Y. Fu. 2005. Molecular phylogenetic analysis of mangroves: independent evolutionary origins of vivipary and salt secretion. Molecular Phylogenetics and Evolution 34:159—166.