Tampilkan postingan dengan label Karbon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karbon. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Perubahan Iklim: Peran hutan dalam perubahan iklim



Hutan, berikut tanah yang berada di bawahnya, yang ada di seluruh dunia saat ini diperkirakan menyimpan lebih dari satu triliun ton karbon. Jumlah ini dua kali jumlah karbon yang ada di atmosfer atau setara dengan berat sekitar 2,000 kali berat total dari 7 miliar manusia yang hidup di dunia, dengan perkiraan berat rata-rata 70 kg per orang. Ketika hutan mengalami peningkatan kepadatan maupun luas, hutan akan berperan sebagai “penyerap karbon”, karena mereka mengambil karbon yang ada di atmosfer dan menyimpannya. Sebaliknya, hutan juga dapat menjadi “sumber emisi karbon” dan penyebab perubahan iklim, jika semua hutan ditebangi, diubah peruntukannya dan terbakar. Kita dapat membayangkan berapa besar karbon dioksida yang akan dilepaskan kembali ke atmosfer dalam kondisi yang demikian. Hal ini akan menyebabkan perubahan yang besar pada sistem cuaca dan iklim. 

Siklus Karbon
http://dunianyasari.blogspot.com/2011/04/daur-karbon.html
Karbon dilepaskan ke atmosfer yang disebut "carbon source" dan disimpan dalam tanaman, hewan, sedimen dan air yang disebut "carbon sink".  Melalui fotosintesis (proses tumbuhan menangkap energi matahari dan menggunakannya untuk tumbuh), tumbuhan mengambil karbon dioksida dari atmosfer dan melepaskan oksigen.  Karbon dioksida diubah menjadi senyawa karbon yang membentuk tubuh tanaman, kemudian disimpan pada bagian atas tanah tumbuhan (batang, daun dan organ reproduksi) dan bagian di bawah tanah (akar).  Pada langkah berikutnya, hewan memakan tanaman, menyerap oksigen dan menghembuskan karbon dioksida.  Karbon dioksida yang dihasilkan oleh hewan kemudian tersedia bagi tumbuhan untuk digunakan dalam fotosintesis.  Karbon tersimpan dalam bagian tumbuhan yang tidak dimakan oleh hewan (serasah) yang akhirnya diuraikan oleh mikroorganisme dekomposer hingga menghasilkan karbon yang dilepaskan ke atmosfer atau terkubur di sedimen mangrove serta terbawa aliran sungai menuju ke laut (Kristensen dkk. 2008).  Dalam siklus karbon di laut, karbon terlarut digunakan oleh fitoplankton dalam fotosintesis dan menghasilkan C organik.  Fitoplankton selanjutnya dimakan oleh zooplankton, kemudian zooplankton dimakan ikan kecil dan ikan kecil dimakan oleh ikan-ikan besar.


Mempertahankan hutan secara utuh akan membantu mengurangi emisi karbon dioksida di atmosfer dan juga memperlambat efek perubahan iklim. Stok karbon dalam biomasa hutan berkurang 0.5 Gt tiap tahunnya selama periode 2005–2010 karena berkurangnya luasan hutan. Salah satunya karena deforestasi (FAO 2010). Deforestasi di berbagai belahan dunia memberikan kontribusi 12-17% emisi karbon dioksida secara global setiap tahun. Sehingga, jika kita kehilangan hutan, kita tidak hanya akan kehilangan fungsi penyerapan hutan, tetapi juga karbon yang telah disimpan di dalam tanah dan tumbuhan dilepaskan ke atmosfer lagi, kemudian selanjutnya memperparah perubahan iklim.
http://kadarsah.wordpress.com/2007/07/14/
Peningkatan emisi karbon dunia



Hutan lebih dirasakan fungsinya dalam mengatasi perubahan iklim dari pada sekedar menyerap gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Hutan berperan menjaga tutupan awan, memantulkan sinar matahari kembali keluar dari atmosfer, mendorong transformasi dari air menjadi uap dan meningkatkan kelembaban di atmosfer, yang akan mendinginkan udara. Selain itu, melalui penyediaan fungsi-fungsi lingkungan yang berbeda dan memenuhi kebutuhan hidup, hutan juga membantu dalam melakukan strategi penyesuaian mata pencaharian manusia yang diakibatkan perubahan iklim. Lebih dari 1,6 milyar orang di seluruh dunia mata pencahariannya bergantung pada sumber daya hutan, yang akan menjadi sumber teramat penting bagi pemenuhan gizi dan pendapatan pada saat terjadi tekanan iklim dan kegagalan panen.
http://mediaipk.blogspot.com/2012/05/mengupas-tuntas-sampai-keakarnya-v.html
Masyarakat sekitar hutan mengambil ranting-ranting kayu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Hutan mendinginkan udara (Kawasan Hutan di Pulau Obi, Maluku Utara)



Referensi:
FAO. 2010. Global forest resources assessment 2010: Main report. FAO Forestry Paper 163. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome: xxxi + 340. 
Kristensen, E., S. Bouillon, T. Dittmar & C. Marchand. 2008. Organic carbon dynamics in mangrove ecosystems: A review. Aquatic Botany 89: 201--219.
 

Senin, 03 Maret 2014

Ekonomi Sumber Daya Alam


Menurut Mankiw  (2007), ada 10 prinsip ekonomi yang utama
a) Semua orang dihadapi pada keharusan memilih (ada trade-off) 
b) Untuk mendapatkan sesuatu, diperlukan pengorbanan 
c) Keputusan rasional berdasarkan utilitas yg didapat pada konsumsi unit terakhir 
d) Insentif mempengaruhi perilaku 
e) Peran pasar sebagai pengelola kegiatan ekonomi 
f ) Perdagangan 
g) Pemerintah kadang dapat memperbaiki pasar 
h) Standar hidup suatu negara bergantung pada kemampuannya menghasilkan barang & jasa 
i ) Tingkat harga naik ketika pemerintah mencetak terlalu banyak uang 
j ) Masalah trade-off antara inflasi dan pengangguran

Jelaskan 3 dari prinsip tersebut yang menurut anda paling sering anda observasi dalam kehidupan sehari-hari, berikut contohnya! 
1) Semua orang dihadapi pada keharusan memilih (ada trade-off) 
Contoh: seorang ibu rumah tangga akan membeli kulkas dan mesin cuci, namun karena uangnya terbatas, maka dia harus memilih mana barang yang paling dibutuhkan dalam waktu dekat. Akhirnya dia memilih membeli kulkas karena merasa lebih dibutuhkan untuk mendinginkan (anak-anknya suka minum es) dan mengawetkan makanan (ibu tersebut sibuk bekerja jadi bisa sekali membeli sayur untuk stok beberapa hari). 

2) Untuk mendapatkan sesuatu, diperlukan pengorbanan 
Contoh: Butet ingin membeli sebuah laptop, saat ini uangnya hanya cukup untuk membeli sebuah notebook. Padahal diang ingin membeli laptop dengan RAM yang besar dan spec yang lebih canggi agar bisa digunakan untuk aplikasi ENVI (software remote sensing). Oleh karena itu, dia harus berkorban dengan lebih keras bekerja agar segera mendapatkan uang dan harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk dapat membeli laptop yang dinginkan. 

3) Insentif mempengaruhi perilaku 
Contoh: Kebijakan untuk memberikan insentif dari negara maju kepada negara berkembang untuk upaya reduksi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi mempengaruhi perilaku negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk semakin meningkatkan kegiatan reboisasi, mencegah terjadinya  pembalakan hutan dan kebakaran hutan. Berbagai instansi, akdemisi, NGO di negara berkembang tersebut banyak yang melakukan inventarisasi, monitoring dan pemetaan cadangan karbon di berbagai hutan. 

Jelaskan prinsip yang bagi anda paling tidak mudah untuk dipahami dan sulit untuk diobservasi dalam perilaku sehari-hari!
Pemerintah kadang dapat memperbaiki pasar. Hal ini sulit diobservasi di Indonesia, sistem pasar sepertinya lebih dikuasai oleh golongan yang kuat, contohnya perdagangan kendaraan bermotor yang semakin meningkat khususnya di Jakarta, semakin menambah kemacetan lalu lintas. Alangkah baiknya apabila pemerintah membuat kebijakan untuk meningkatnya pajak kendaraan bermotor dan mengurangi subsidi bbm agar penambahan kendaran bermotor dapat ditekan. Selain tiu, peran pasar dalam mengelola ekonomi juga cukup sulit dipahami dan diobservasi.

Prof.  Emil Salim menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan memerlukan perubahan fundamental dari paradigm pembagunan ‘konvensional’. Jelaskan apa saja perubahan yang diperlukan, menurut beliau. Apakah saudara setuju? Jelaskan! 
Perubahan yang diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan: 
1)  mengubah perspektif jangka pendek menjadi jangka panjang; 
2)  menempatkan aspek sosial dan lingkungan pada tingkat yang sama dengan aspek ekonomi; 
3)  kepentingan publik/ sosial masyarakat dapat diselaraskan/ ditempatkan di atas kepentingan pribadi; 
4)  mengoreksi kegagalan pasar dan menginternalkan semua biaya eksternal yang berkaitan dengan pembangunan sosial dan lingkungan dalam bentuk biaya ekonomi; 
5)  mengoreksi kegagalan pasar serta memperbaiki kondisi kegagalan pemerintah lewat kemitraan yang setara antara pemerintah, korporasi dan masyarakat sipil.

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi permintaan terhadap karbon?

Adanya permintaan untuk kredit pengurangan emisi merupakan upaya negara-negara industri mengembangkan kebijakan dalam negeri untuk mematuhi Protokol Kyoto. Faktor-faktor yang akan mempengaruhi ukuran dan stabilitas pasar kredit karbon global antara lain: 

1) Pasar CDM (Clean Development Mechanism) kehutanan terbatas
Keputusan AS untuk tidak berpartisipasi dalam Protokol Kyoto kemungkinan akan berarti penurunan permintaan kredit proyek, terutama dari CDM. Keputusan oleh pemerintah di Marrakech Accords untuk membatasi ukuran dari portofolio CDM kehutanan selama periode komitmen pertama Protokol Kyoto (2008-2012) juga akan mempengaruhi pasar. Kredit karbon dari proyek-proyek aforestasi dan reforestasi di bawah CDM yang dapat dihasilkan setiap tahun oleh negara industri tidak dapat melebihi satu persen dari emisi tahun dasar negara itu pada 1990. Ini berarti bahwa total potensi pasar global untuk aforestasi dan reforestasi kredit proyek dibatasi maksimum sekitar 33 juta ton karbon ( MTC ) per tahun, atau 165 MTC selama periode komitmen lima tahun .

2) Supply/ Pasokan karbon
Pasar untuk kredit karbon juga akan dipengaruhi oleh jumlah penyerapan karbon yang dapat dicapai dengan fisik ekosistem darat dari periode saat ini hingga 2012 . Perkiraan berkisar luas tentang jumlah lahan yang tersedia untuk aforestasi dan reforestasi proyek dan jumlah karbon yang dapat diserap di lahan tersebut. Menurut IPCC ( 2000) , agro - kehutanan di daerah tropis memiliki potensi untuk menyerap 2-5 ton karbon per hektar per tahun ( t C ha - 1 tahun-1 ) , sedangkan rehabilitasi dan restorasi lahan hutan terdegradasi bisa menyita 0,25-0,9 t C ha - 1 tahun-1 . Hutan tanaman industri dapat mengambil rata-rata 3 sampai 6 t C ha - 1 tahun-1 sampai maksimal antara 12 dan 15 t C ha - 1 . Ini berarti tingkat penyerapan karbon tahunan 4-8 t C ha - 1 di regions 20 tropis.

3) Harga
Perkiraan harga pasar satu ton berbagai karbon dari US $ 3 sampai $ 57. Harga pasar dianggap sangat tergantung pada permintaan untuk kredit karbon dan biaya transaksi proyek CDM. Jika sejumlah besar tunjangan emisi berlebih (disebut sebagai " udara panas " ) bahwa negara-negara tertentu memiliki di bawah Protokol Kyoto yang dijual, maka harga akan cenderung tertekan .
Faktor harga ini kemungkinan akan membatasi jumlah aforestasi dan reforestasi kredit proyek diperdagangkan di pasar emisi . Namun demikian , investasi swasta dalam proyek-proyek mitigasi perubahan iklim cenderung menjadi besar, membuka peluang baru untuk sektor kehutanan. Dana tambahan juga diharapkan dari pemerintah dalam bentuk bantuan pembangunan resmi untuk mengkatalisasi dan membiayai proyek-proyek .

4) Kebijakan gas rumah kaca dan energi
Implementasi kebijakan dalam reduksi gas rumah kaca akan meningkatakan permintaan dan harga kredit karbon. Kebijakan yang menyediakan subsidi kredit untuk emiter untuk memperoleh kredit akan meningkatkan permintaan dan harga kredit. Tingginya harga akan menyediakan insentif untuk suplier yang akan meningkatkan produksi karbon, sehingga menurunkan gas rumah kaca. Kebijakan untuk efisiensi peningkatan penggunaan energi, seperti standar efisiensi atau insentif finansial untuk membuat alat efisiensi energi akan mengurangi permintaan dan harga kredit karbon karena mereka akan mengurangi konsumsi energi dan emisi.

5) Harga energi
Harga energi (bbm fosil) yang rendah karena adanya subsidi dari pemerintah atau ketersediaan yang melimpah, semakin meningkatkan penggunaan energi sehingga emisi lebih banyak. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan permintaan kredit karbon.

6)Teknologi
Teknologi untuk penggunaan bbm fosil secara efisien akan mengurangi permintaan terhadap kredit karbon karena penggunaan bbm fosil dan emisi yang lebih sedikit.

7)Iklim
Suhu yang meningkat akan meningkatkan penggunaan alat-alat pendingin di rumah-rumah atau gedung-gedung, sehingga penggunaan energi meningkat demikian pula emisi yang juga bertambah. Hal tersebut akan meningkatkan permintaan terhadap kredit karbon.

Referensi
Jeffrey, R.W., J.M. Peterson & S. Mooney. The Value of Carbon Credit; Is there A Final Answer?

NMA : 18 November 2013

Mitigasi Perubahan Iklim di Ekosistem Mangrove



Pemanasan global terjadi karena tingginya kandungan karbondioksida (CO2) dan gas lainnya di atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Kegiatan manusia seperti manufaktur, transportasi dan penebangan hutan menyebabkan terjadinya pelepasan (emisi) CO2 ke atmosfer (FAO 2010). Sekitar 8–20% emisi CO2 terjadi karena deforestasi hutan dan perubahan tata guna lahan (Van der Werf 2009 & IPCC 2007). Gas tersebut membuat atmosfer menahan lebih banyak panas dari matahari, sehingga terjadi kenaikan suhu di bumi. Perubahan temperatur dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan perubahan iklim global. Perubahan iklim mengakibatkan banyak dampak negatif, antara lain kenaikan permukaan air laut, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan penurunan hasil panen. Beberapa negara di dunia berupaya mengatasi  perubahan iklim melalui mekanisme  REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation). Mekanisme tersebut telah disetujui oleh badan PBB yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) (Danielsen dkk. 2010).
REDD+ merupakan salah satu upaya untuk mengatasi perubahan iklim di sektor kehutanan melalui pengurangan pelepasan (emisi) karbon akibat penggundulan (deforestasi) dan pengrusakan (degradasi) hutan. Mekanisme tersebut mencakup upaya konservasi, pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan cadangan karbon (misalnya reboisasi mangrove) (FORDA 2013). Pengurangan emisi CO2 dalam jangka waktu tertentu dapat diperhitungkan sebagai kredit karbon yang memiliki ‘nilai’ yang dapat ‘dijual’ di pasar karbon internasional. Transaksi tersebut dikenal dengan Perdagangan Karbon. ‘Pembeli’ karbon adalah pelaku industri yang menghasilkan CO2, sementara ‘penjual’ adalah pengelola hutan yang menjual kredit karbon yang terkandung dalam hutan yang dikelola. Selain mengurangi emisi CO2, REDD+ juga memberi manfaat sebagai sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat setempat,  menumbuhkan potensi wisata alam, mempertahankan sumber penghidupan tradisional dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan hutan serta meningkatkan pendapatan pemerintah daerah di bidang kelautan perikanan, kehutanan dan pariwisata.
Komponen penting dalam pelaksanaan mekanisme tersebut adalah estimasi simpanan karbon secara tepat untuk berbagai tipe hutan, khususnya tipe-tipe yang memiliki cadangan karbon yang tinggi dan mengalami perubahan tata guna lahan yang tak terkendali, hutan mangrove salah satunya. Hutan mangrove merupakan salah satu hutan terkaya akan kandungan karbon di kawasan tropis, mengandung sekitar 1.023 Mg karbon per hektar (Donato dkk. 2011). Namun luas hutan mangrove telah mengalami penurunan 30–50% dalam setengah abad terakhir karena pembangunan daerah pesisir dan penebangan yang berlebihan (Duke 2007). Donato dkk. (2011) memperkirakan bahwa deforestasi mangrove menyebabkan emisi sebesar 0,02- 0,12 Pg karbon per tahun, setara dengan sekitar 10% emisi dari deforestasi secara global, walaupun luasnya hanya 0,7% dari seluruh kawasan hutan tropis. Cadangan karbon yang besar serta berbagai jasa ekosistem yang diberikan manjadikan mangrove berpotensi untuk strategi mitigasi perubahan iklim.
Mangrove melakukan fotosintesis dengan mengambil CO2 dari atmosfer dan diubah menjadi karbohidrat, seperti aktivitas tumbuhan pada umumnya. Karbohidrat kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan akhirnya ditimbun dalam tubuh pohon mangrove. Pengukuran cadangan karbon dapat dilakukan dengan mengukur tubuh tanaman hidup (biomasa) dan tumbuhan yang telah mati (nekromasa). Pengukuran jumlah karbon yang disimpan dalam biomassa dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh tanaman sedangkan cadangan karbon yang masih tersimpan dalam bagian nekromasa secara tidak langsung menggambarkan CO2 yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran (Hairiah dkk. 2011). Selain itu, tanah di hutan mangrove juga merupakan komponen penting dalam penyimpanan cadangan karbon. Donato dkk. (2011) menjelaskan bahwa tanah dengan kandungan organik tinggi memiliki kedalaman antara 0,5-3 m lebih dan merupakan 49–98% simpanan karbon dalam ekosistem mangrove.
Sistem MRV (measuring, reporting, verification) digunakan sebagai dasar pemberian insentif REDD+. Kegiatan MRV terdiri atas (1) Monitoring yaitu proses koleksi data dan penyediaan data dari pengukuran di lapangan; (2) Reporting yaitu proses pelaporan secara formal hasil penilaian ke UNFCCC dengan format sesuai standar IPCC; dan (3) Verification yaitu proses verifikasi formal terhadap laporan-laporan hasil.
Masyarakat sebagai pengguna dan pemelihara hutan mempunyai peran serta langsung dalam skema REDD+. Hal ini diperkuat oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dengan menerbitkan draft Peraturan Menteri Kehutanan (permenhut) mengenai tata cara pelaksanaan REDD+. Masyarakat yang memiliki ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kemasyarakatan, ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman rakyat, ijin pengelolaan hutan adat dan pemilik hutan hak dapat secara langsung mengajukan diri sebagai pemrakarsa REDD kepada Menteri Kehutanan. Masyarakat akan memperoleh insentif sesuai dengan penurunan emisi yang dihasilkan dari areal hutan yang menjadi lokasi REDD+.
Setelah diperoleh data cadangan karbon total dan serapan CO2 (CO2e), maka nilai insentif dapat diestimasi berdasarkan kesepakatan harga karbon internasional. Harga per metrik ton CO2e berkisar dari $ 5-10 (Yee 2010). Sumber lain menyatakan harga cadangan karbon terendah di Amerika Serikat sekitar $10 per ton (Miles & Kapos 2008). Bowen (2011) juga menyatakan harga karbon dioksida £30 per ton di UK.  Nilai tersebut setara dengan Rp 113.520 – Rp 545.715 per ton.
Mitigasi perubahan iklim melalui konservasi ekosistem mangrove diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi berbagai pihak termasuk masyarakat lokal. Sejumlah literatur telah banyak membahas mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta pembiayaan inovatif berkelanjutan, namun cukup sulit untuk dipahami dan diterapkan tanpa adanya pelatihan dari pihak yang benar-benar kompeten di bidang tersebut. Materi mengenai penginderaan jauh untuk kehutanan dan estimasi stok karbon, Sistem Informasi Geografis, monitoring keanekaragaman hayati dan kehutanan, ekonomi lingkungan dan sumber daya alam, bisnis pengelolaan dan konservasi hutan, aspek legal dari pengelolaan dan konservasi hutan serta aspek sosial-budaya dari pengelolaan dan konservasi hutan merupakan materi yang harus dipahami untuk mewujudkan tercapainya upaya mitigasi perubahan iklim tanpa mengesampingkan hak-hak dan kebutuhan masyarakat lokal. Oleh karena itu, pelatihan yang berisi materi terintegrasi dari berbagai bidang ilmu (Biologi, Geografi, Ekonomi, Bisnis, Hukum, Sosial, Budaya) sangat diperlukan.